Antara Dapur Dan Pesantren

Oleh: Aminaga Jempinang

Warung kopi maupun kantin penyedia aneka selera di lingkungan Pesantren telah membentuk kultur baru, kultur dimana tempat paling asyik bercengkerama dan membincang apapun tentang dunia yang dialami santri. Di luang aktifitas padatnya pesantren, baik aktifitas ketika memakai sarung dan sepatu, kantin memang bagian tidak terpisahkan dari kebutuhan perut setelah “sesaknya dapur pesantren” beralih “tinggal pilih menu apa yang akan dilahap”.

Beda tempat beda pula kulturnya, obrolan dapur pesantren tentu berbeda dengan obrolan kantin, dulu dan sekarang juga mengalami perbedaan yang berarti telah berlangsung arti antara perkembangan dan pergeseran, antara maju dan mundur, antara pintar dan ngerti. Keduanya tentu ada sisi perbedaan dan persamaan. Sekedar contoh, perilaku dan obrolan dapur pesantren sarat dengan solidaritas santri sekaligus bernuansa kompetitif, telinga kita mungkin akrab perihal cerita-cerita unik tentang bagaimana proses Nasi Liwet dan lauk pauk harus melewati benturan selera, ide, kesiapan alat, dana, pembagian job serta manajemen waktu. “karep mangan yo karep soro” slogan tidak tertulis itu mewarnai perilaku watak santri, ada nilai kesabaran dan kesederhanaan yang dilatih oleh dapur pesantren.

Sederhana dan apa adanya, telah menjadi gemblengan paling handal ditengah-tengah kesadaran mencari ilmu. Tidak aneh, bila cerita tentang suara berisik nadzam Alfiah Ibnu Malik menemani panasnya tungku kayu bakar, belum lagi khazanah Humor Pesantren sering hadir dan berkembang dari dapur pesantren. Cerita yang semakin menegaskan bahwa dapur pesantren adalah tempat belajar santri, belajar apapun.

Kini, saya kesulitan menemui nilai khas pesantren yang erat dengan prinsip

al-muhafadzah alal Qodimis sholih dan al-akhdu bil jadidil ashlah” pada pojok pesantren. Tempat boleh berbeda, namun nilai, keyakinan, tradisi, kitab kuning, ta’dzim, berani sebagai pegangan pesantren menjawab dilemma gaya hidup modernitas. Apakah luntur, bergeser, berkembang? sayapun sulit membedakannya, karena ini berhubungan dengan rasa rindu dan bukan rasionalitas.

Seiring dengan tuntutan kebutuhan, kantin pesantren maupun warung hadir untuk memudahkan lelaku nyantri di penjara suci, kantin/warung bagi saya adalah media penguat kultur khasnya pesantren, ia tidak sekedar soal aneka rasa nusantara, ia tidak sekedar pertanda baiknya ekonomi masyarakat sekitar, ia tidak sekedar menjadi tempat transaksi jual beli, keberadaanya merupakan salah satu media paling ampuh sebagai tempat belajar santri. Certainly, belajar apapun.

belajar apapun” memang sedikit muluk-muluk dan terkesan egois idealis jauh dari yang tampak, terkesan pula statement pesimis melihat yang tampak, tanpa harus survey dan melakukan berbagai model pendekatan ilmiahnya perguruan tinggi. Kita tentu sudah terbiasa melihat gaya hidup serta obrolan santri model kantin/warung, pun perhatian sosialnya tersedot dengan adanya fasilitas music, televise, frame berfikir yang berkembang biar tidak ketinggalan informasi (gaptek). Inilah yang saya sebut sensitive teknologi atas dilemma gaya hidup santri.

Dilema teknologi adalah bagian dari proses sikap adaptasi pesantren secara struktural maupun kultural, meskipun proses penyesuaian diri itu, meminjam istilah Paulo Freire merupakan bentuk pertahanan diri yang paling rapuh, tetapi pesantren melihatnya tetap diperlukan agar pendidikan Manusia yang manusiawi (Akhlakul Karimah) dalam perajalanannya tidak sampai kehilangan konteks dan makna empiriknya. Pun, tidak melulu sekedar sikap adaptasi, pola kehidupan pesantren sebagai bagian pendidikan asli Indonesia dalam proses humanisasi menghendaki agar santri sebagai subyek.

Sekali lagi, gejala human technique yang tampak tidak bersahabat semakin menegaskan posisi pesantren sebagai locus pendidikan alternatif yang menjawab tantangan kekinian, bukankah lingkungan sosial ini senantiasa mengajarkan, menumbuhkan sebuah kearifan (wisdom), mendidik santri bagaimana menjadi manusia?

Melalui pola komunikasi Kyai-Santri, tradisi pesantren itu terpelihara kuat mengakar pada lintas generasi, bahkan saling berhubungan sekalipun telah lama meninggalkan masa pendidikannya di pesantren. Terbukti adanya ikatan Thariqah, Dari bentuk-bentuk hubungan antara guru (mursyid) dan murid (salik) yang bukan saja bersifat kemanusiaan, namun juga spiritual (ketuhanan)– karena diikat oleh sebuah perjanjian setia (bai’at) menjadikan thariqah ini sebagai media komunikasi dan sarana dakwah yang sangat kuat dan efektif.

Antara Dapur Pesantren (Ngliwet) maupun Kantin, keduanya tetap mengandung sebuah kearifan zaman. Antara generasi santri produk dapur pesantren maupun generasi produk kantin pasti tahu dengan slogan “Cecekelan Marang Dawuhe Kyai”.

Ket. Artikel ini ditulis oleh santri Pondok Pesantren Ngalah yang menamakan dirinya sebagai "Santri Trotoar".

 

 

Tentang Kami

Pondok Pesantren Ngalah.
Jl. Pesantren Ngalah No. 16 Pandean Sengonagung Purwosari Pasuruan
Jawa Timur Kode Pos 67162

Telp./Fax. (0343) 0343 611250; E-Mail:

Connet With Us