Panggung Wayang Dewa Ruci di Yudharta

Oleh : AminNaga Jempinang

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa bulan Hari Pendidikan Nasional  bagi Universitas Yudharta Pasuruan merupakan aktifitas padat, twitter @Yudharta_Indonesia nya aja padat kok, sampai tulisan ini ditulis, berlangsung Agenda Akbar dalam memeriahkan Dies Nataliesnya ke 14 dengan mengusung isu #BudayaNusantara, serangkaian agenda penting dimulai 02 Mei 2016, Seminar Internasional episode “Arah Kebijakan ekonomi politik Malaysia, Brunei Darussalam dan Indonesia di Era Ekonomi Masyarakat ASEAN”, Menyusul pula agenda tayang ngetokno bakat atlit lan kringet yakni “PEKAN PELAJAR merebut Piala Bupati Pasuruan melibatkan Peserta Didik tingkat SLTA se Pasuruan, tentu saja semakin melengkapi riuh gemuruh sore senja lapangan kampus di Jl. Yudharta No. 17 Pandean Sengonagung Purwosari Pasuruan.


Belum sempat bertanya kapan berakhirnya, Sabtu, 07 Mei 2016, kita masih dikejutkan wow dengan adanya Kegiatan Seminar Nasional menghadirkan Imam Nachrowi selaku Menteri Pemuda dan Olahraga RI, beliau akan mengulas tekad “Mensinergikan Pendidikan Jasmani dalam pembentukan karakter Pemuda Indonesia Nasionalis dan Anti Narkoba”, sekaligus mengamini Launching dan Ikrar SATGAS ANTI NARKOBA. Kereenn kan ? ya belumlah karena lagi-lagi kita akan dimanjakan hidangan Barongsai Tjoe Tik Kiong Pasuruan asuhan Rohaniawan Agama KongHucu  Yudi Dharma Santoso, beliaulah yang merawat Rumah Ibadah Kelenteng Tjoe Tik Kiong Pasuruan yang berdiri sekitar abad 17 M, sempatkan silaturrahmi  ke Jl. Lombok Kota Pasuruan ya, anda akan menemukan bagaimana proses pembelajaran kebudayaan Tiongkok berjalan asyik, teduh menyejukkan hati.


Klimaks kenikmatan Dies Natalies Yudharta patut diacungi jempol, opo’o ? kok iso se ? saran saya, Siapkan mata dan telinga anda secara jernih sekalian dompet tebalnya, karena hiruk pikuk jajanan kuliner nusantara, produk-produk kreatif mahasiswa n Rakyat, uang recehan parkir, kaos-kaos berslogan Gus Dur, sticker Ketulusan Nasehat Orang Jawa, Video Cak Nun dengan lagu Ilir-Ilir, Gus Mus dengan akun khas twitternya, atau Pin Lencana Bung Karno dengan pekik lontaran semangat  juangnya, juga ada Edaran Buku Galak Gampil, Jawabul Masa’il, Sabilussalikin terbitan Pondok Pesantren Ngalah. Kesemuanya akan mewarnai, meramaikan sepanjang jalan menuju lokasi perhelatan pamungkas diadakannya PAGELARAN BUDAYA WAYANG DEWA RUCI, Ki Enthus Susmono, Bupati Tegal Jawa Tengah.
Perihal Konser Wayang berkisah Dewa Ruci, mulai paragraf ini, saya akan sedikit membincang serius tentang satu aspek kebudayaan yang dimiliki oleh Suku Bangsa Jawa, Wayang. Kekayaan Bangsa Indonesia yang dikenal dalam lingkup Nasional, bahkan internasional. Orang jawa percaya bahwa wayang bukan hanya sekedar hiburan semata, namun memberikan kesan mendalam soal petuah-petuah kehidupan. Wayang terbentuk atas berbagai komponen yaitu, dalang, wayang, pemusik, penyanyi, gamelan, batang pisang, kelir, blencong, lakon cerita dan lain sebagainya. Terlebih bagi fans berat pagelaran wayang, Lakon Cerita adalah nyawa sebuah pertunjukan, dan salah satunya yang dianggap sakral adalah Lakon Wayang Dewa Ruci.


Lakon Dewa Ruci di tulis oleh Pujangga penutup Kraton Surakarta yakni Yasadipura I (ditengarai sebagai guru dari Pujangga Ranggawarsita), sekitar tahun 1803 dengan judul cerita “BIMASUCI” dalam bentuk puisi jawa dan ditulis untuk keperluan pagelaran wayang kulit (S.P Adhikara; 1982). Kesungguhan mencari air kehidupan (Tirta Perwita) yang dilakukan Bima atas perintah Resi Drona, hingga melalui berbagai ujian, cobaan, ketakutan, kebimbangan, keraguan dalam diri atas sanggup atau tidaknya menjalankan titah jebakan dari Resi Drona.


Hingga akhirnya, ia bertemu dengan Dewa Ruci, bentuk tubuhnya kecil, wajahnya hampir menyerupai Bima sendiri, seakan Dewa Ruci sebagai gambaran representasi diri Bima, dalam dialog perjumpaannya Bima diperintah untuk masuk telinga kiri Dewa Ruci, baginya adalah perintah mustahil. Ditengah pergolakan bathin, ia mendapati dirinya menatap dunia yang begitu luas, Dewa Ruci bertutur bijak bahwa “air kehidupan tidak ada dimana-mana, percuma engkau cari karena air kehidupan berada dalam sanubari manusia itu sendiri.”


Nuansa kisah Dewa Ruci sarat dengan ajaran kebathinan masyarakat Jawa, yakni berisi pencarian jati diri manusia. Ihwal hasrat Manusia yang terus, terus menerus melacak keberadaan Sang Illahi, tentu tidak mudah. Tentu, kita harus refleksi mendefinisikan diri, walaupun pendefinisian kita hanyalah sepotong, secuil  dari kenyataan yang begitu kompleks, lumayanlah Psikologi Jawa bisa menjadi rujukan, penguat identitas sebagai orang Jawa.
Perjalananan berat Bima dan cinta pertamanya pada Dewa Ruci  sesunggunya sarat dengan simbol-simbol tentang perjuangan manusia mengalahkan hawa nafsunya, yang dapat menghalangi jalan menuju kesempurnaan hidup. Entah nafsu makan yang melewati batas, kesombongan, kekuasaan,  nafsu berpolitik rakus, beribadah pamer dan lain sebagainya.


Kita yang beragama pasti tahu, bukankah, di SANA, rahasia ke-TUHAN-nan disembunyikan. “siapa yang mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya”. Bila telah sampai bermesraan dengan sang Illahi, olah ketenangannya kuat, maka tugas kita sebagai Khalifah fil Ardhi untuk mewujudkan Hamemayu Hayuning Bawono (Rahmatan Lil ‘Alamin), bukan dengan lantas berzuhud pergi  uzla, menyepi lari dari hiruk pikuk masyarakat. Melainkan, topo ngrame, berzuhud dan wara’ ditengah keramaian dunia, sebagaimana tauladan Nabi Muhammad SAW, atau seperti Sunan kalijogo atau Sunan Bonang.
Kiranya saya, anda maupun pembaca penikmat Kajian Islam Nusantara tentu tidak kehabisan khazanah figur-figur teladan, bukan ?


Kiranya saya, paman atau kekasih anda ketika menyaksikan pagelaran Wayang Kulit di Lapangan Hijau Universitas Yudharta Pasuruan, menambah khazanah untuk tetap waspada, tidak lupa diri serta tidak lagi sakit hati bila orang tua saya, Ibu kesayangan anda berkata “Wong Jowo kok ora ngerti Jowone, piye tho lhe le, piye tho ndook ndok.”

Tentang Kami

Pondok Pesantren Ngalah.
Jl. Pesantren Ngalah No. 16 Pandean Sengonagung Purwosari Pasuruan
Jawa Timur Kode Pos 67162

Telp./Fax. (0343) 0343 611250; E-Mail:

Connet With Us