Spektrum Pemikiran Islam Era Kontemporer

SPEKTRUM PEMIKIRAN ISLAM ERA KONTEMPORER

Melacak Pemikiran “Muslim Progresif “

 

 

Oleh: Ahmad Marzuki

Pra Wacana

Di bawah serbuan modernitas yang semakin gencar, para pemikir Muslim semakin gelisah dan saling berebut klaim kebenaran. Salah satu akar permasalahannya adalah ada sebagian para pemikir muslim tak peduli pada “Islam yang hidup” di masa kini maupun dalam sejarah. Mereka malah menggandrungi “Islam yang dibayangkan”, baik sebagai mitologi masa silam maupun utopia masa datang. Mereka agresif, bersuara lantang. Yang terburuk dari semua itu, mereka berhasil melakukan aksi kekerasan mengerikan sehingga menyentak kesadaran semua orang, termasuk nonmuslim.

Sebagai agama yang mengandung nilai-nilai universal, Islam dalam perjalanannya mampu menembus ruang dan waktu, yang pada gilirannya akan mempengaruhi paradigma para pemikir Islam yang telah mengalami berbagai macam perubahan dan penyesuaian baik secara evolusi atau bahkan revolusi, yang sudah barang tentu kesemuanya ditujukan dan bertujuan dalam rangka mengagungkan Din al-Islam. Sehingga suatu hal yang sulit dihindari dalam dinamika pemikiran keagamaan adalah ketegangan-ketegangan dan bahkan konflik yang muncul mengiringi perkembangan pemikiran tersebut.

Di satu pihak ketegangan itu muncul oleh suatu keharusan mempertahankan sendi doktrinal norma agama dan situasi dunia yang selalu berubah, sementara di pihak lain ketegangan lahir dari oleh proses sosiologis. Meskipun demikian pergulatan-pergulatan pemikiran dan gagasan keagamaan pada akhirnya memberi dasar bagi proses social, setelah terlebih dahulu gagasan itu teruji dan tahan atas falsifikasi.

Fokus pembahasan dalam makalah ini bukan untuk meningkatkan ketegangan di antara spektrum pemikiran Islam kontemporer, tetapi Penulis berusaha menampilkan berbagai macam fragmentasi pemikiran Islam sebagaimana adanya, seperti yang diklasifikasikan oleh Abdullah Saeed. Dan sebagai stressing pembahasan ini adalah tentang pemikiran Islam yang muncul di era kontemporer ya’ni The Progressive ijtihadists[1] atau Liberal or Rational Reformism,[2] yaitu pemikiran muslim yang berupaya menafsir ulang ajaran agama (Islam) agar bisa menjawab kebutuhan masyarakat masa kini.

 

Aneka Warna Pemikiran Islam Di Era Kontemporer

Periode modern telah menyaksikan munculnya berbagai tren dalam pemikiran Islam. Kompleksitas dan ragam pemikiran Islam yang akan dibahas ini, bisa jadi belum merepresantasikan pemikiran Islam secara menyeluruh karena ada kesulitan untuk mengadopsi tipologi yang akan mencakup seperti berbagai tren dan pemikir. Namun, Abdullah Saeed telah mencoba untuk merangkum, setidaknya pada level yang cukup luas, tren kunci yang ada saat ini.[3]

 1. The Legalist-traditionalist,

Kelompok Tradisionalis Legalist mengacu pada hukum-hukum yang dikembangkan dan ditafsirkan oleh para ulama periode pra modern. Mereka mendalami dan mengikuti secara ketat sekolah pramodern hukum Islam dan ajaran teologis yang terkait. Mereka memegang teguh pendapat para ahli hukum pramodern dan teolog dari sekolah yang relevan. Tren ini mendominasi dalam sistem madrasah di seluruh dunia Islam, misalnya di Timur Tengah, Afrika, sub-benua India dan kawasan Melayu (Indonesia, Malaysia).[4]

 

Kajian pemikiran Islam tentang teologi dan hukum fiqh menjadi pilihan primadona bagi umat Islam dari abad kesebelas sampai ke masa modern. Bahkan, fiqh adalah kajian yang paling kuat mendominasi pemahaman orang-orang Muslim akan agama mereka, sehingga paling banyak membentuk bagian terpenting cara berpikir mereka. Kenyataan ini dapat diamati dari proses sejarah pertumbuhan masyarakat Muslim masa lalu.[5] Misalnya, upaya Kekaisaran Turki Usmani mengadopsi sekolah Hukum Hanafi, kemudian pada abad kedua puluh, Arab Saudi mengadopsi mazhab Hambali, sementara Malaysia mengadopsi sekolah Syafi'i. Sampai saat ini, seorang muslim diharapkan untuk mengikuti sekolah hukum dalam hal yang berkaitan dengan ritual dan area lain dari hukum Islam seperti hukum keluarga. Di beberapa komunitas, bahkan masjid berada dalam pengaruh Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hambali atau Syi'ah (Ja'fari). Kesamaan pemikiran di antara mereka semua mewakili ortodoksi Islam.

Dalam pandangan Abdullah Saeed, tokoh sekaliber Yusuf Qardawi[6] masuk dalam kategori pemikir Tradisional-legalist. Hal ini bisa diamati dari pemikiran dan fatwa Qardawi dalam menyikapi hukum perempuan ketika jadi imam sholat. Qardawi menyatakan: “Sepanjang sejarah Islam belum pernah mendengar seorang wanita untuk memimpin shalat Jum'at atau memberikan khotbah Jumat, bahkan selama era ketika seorang wanita, al-Durr Shajarat (w. 659/1259), memerintah Muslim di Mesir selama periode Mamluk. Hal ini ditetapkan bahwa kepemimpinan sholat dalam Islam adalah untuk laki-laki. Sholat dalam Islam adalah tindakan yang melibatkan gerakan tubuh yang berbeda, bukan sekedar menyampaikan permohonan seperti halnya dengan sholat/doa dalam agama Kristen. Selain itu, diperlukan konsentrasi pikiran, kerendahan hati, dan penyerahan sepenuh hati untuk Allah SWT. Oleh karena itu, tidak layak bagi seorang wanita, yang struktur tubuh secara alami membangkitkan naluri pada pria, ketika memimpin orang dalam sholat dan berdiri di depan mereka, hal ini dapat mengganggu konsentrasi dan suasana spiritual orang laki-laki. Islam adalah agama yang memperhitungkan berbagai aspek, materi atau spiritual, karakter manusia. Oleh karena itu, hanya laki-laki yang bisa berusaha minta doa dan memimpin orang dalam sholat, dan tentu saja baris perempuan dalam sholat berada di belakang laki-laki”.[7]

2. The Political Islamists,

Kelompok Islam Politik prihatin dengan pengembangan tatanan sosial-politik dalam masyarakat Muslim. Mereka menolak ideologi modern nasionalisme, sekularisme dan komunisme. Mereka juga menolak 'westernisasi'. Kelompok ini sering berdebat untuk reformasi dan perubahan di komunitas Muslim, menekankan nilai-nilai dan lembaga-lembaga 'Islam' atas apa yang mereka lihat sebagai nilai-nilai dan norma-norma Barat. Mereka tertarik untuk membangun sebuah negara Islam. Mereka menggunakan pendekatan revolusioner dalam merespon pemerintah non muslim, bahkan jika diperlukan mereka menggunakan kekerasan. Tetapi sebagian diantara mereka ada juga yang menggunakan pendekatan bertahap melalui pendidikan, mulai dari tingkat akar rumput.

Kelompok Islam politis sangat tertarik untuk proyek alternatif program untuk memperluas cakupan makna Islam dan perannya dalam masyarakat. Mereka merespon terhadap situasi yang dihadapi umat Islam, terutama yang terkait dengan peranan Islam dalam masyarakat semakin lama semakin terkikis. Gerakan penting terkait dengan Islam politik termasuk Ikhwanul Muslimin dari Mesir dan Jamaat Islami Pakistan. Mereka memiliki pendekatan serupa terhadap perubahan sosial dan mengadopsi sebuah ideologi yang menekankan lebih aktivis Islam yang menantang otoritas yang ada, apakah negara atau agama. Mereka bertekad untuk mengubah masyarakat Muslim dari dalam. Setiap hambatan bagi perubahan mereka berdebat untuk dapat menjadi target tantangan mereka. Para aktivis militan menyatakan bahwa nation-state seperti yang ada di dunia Muslim adalah tidak sah. Argumen mereka adalah bahwa, bagi sebuah negara untuk menjadi sah, Ia harus memperoleh otoritas atau legitimasi dari Allah, yaitu dari agama yang diwahyukan, bukan dari orang-orang. Kedaulatan Allah harus tertinggi di negara, dalam hal ini negara harus menegakkan dan menerapkan hukum Islam, bukan menerapkan hukum “buatan manusia hukum”. Karena sebagian besar negara-negara Muslim tidak menerapkan “hukum Islam” negara ini tidak dianggap sah dan berada di bawah tantangan oleh para aktivis militan.[8]

Salah satu tokoh penting Islam Politik adalah Abu ‘Ala al-Mawdudi.[9] Sejak tahun 1941, Mawdudi mengembangkan ide-ide mengenai pendirian sebuah gerakan yang lebih komprehensif dan ambisius; ini membuatnya meluncurkan organisasi baru dengan nama Jamaat Islami (Islamic Society). Setelah berimigrasi ke Pakistan pada bulan Agustus tahun 1947, Mawdudi memusatkan usahanya dalam mendirikan suatu negara dan masyarakat yang benar-benar Islam di negeri ini.

Negara Islam menurut al-Maududi dapat disebut dengan Kingdom of God.[10] Teokrasi Islam menurutnya berbeda dengan teokrasi yang pernah diterapkan oleh negara-negara di Eropa dimana negara dikuasai oleh sekelompok pendeta yang mendominasi negara dan menegakkan hukum-hukumnya sendiri atas nama Tuhan, dan memaksakan hukum tersebut kepada rakyat untuk kepentingan kelompok tertentu. Teokrasi dalam Islam tidak dikuasai oleh kelompok-kelopok tertentu, tetapi dikuasai oleh seluruh masyarakat Islam. Sistem ini menyatukan antara sistem teokrasi dan demokrasi. Undang-undang dalam negara Islam secara pokok telah ditentukan oleh Allah, sementara hal-hal yang bersifat spesifik dan tidak tecantum dalam syari’ah diselesaikan berdasarkan musyawarah dan mufakat secara konsensus di kalangan umat muslim.

Karasteristik lain negara Islam menurut al-Maududi adalah negara yang ideologis.[11] Negara Islam berdiri berdasarkan ideologi Islam dan bertujuan untuk menegakkan ideologi tersebut. Oleh karena itu, para penyelenggara negara wajib diduduki oleh orang-orang yang menjunjung tinggi ideologi Islam dan hukum-hukum ilahi, serta sepenuhnya menghayati dan memahami setiap rinciannya.

3. The Secular Muslims,

Seorang Muslim sekuler lebih cenderung kepada demokrasi sekuler modern dan memisahkan hubungan agama dan negara, dan ini bertentangan dengan pemikiran Islam sebagai gerakan politik. Seorang Muslim sekuler biasanya mengamalkan ajaran Islam secara pribadi dan tidak setuju dengan implementasi hukum berdasarkan Syariah Islam dalam masyarakat. Sekularisme berasaskan pemisahan agama dari semua hal-hal duniawi. Sekularisme menolak mendirikan negara Islam dalam tatanan sosial-politik. Berikut ini adalah statemen Muslim sekuler yang tertuang dalam 'A Manifesto Muslim sekuler', mereka tertarik dalam menyikapi masalah-masalah berikut ini:

  1. Kami adalah perempuan dan laki-laki dari budaya Islam. Beberapa dari kita orang yang beriman, sementara yang lain agnostik atau ateis. Kita semua mengutuk tegas deklarasi dan tindakan kebencian terhadap wanita, homofobia,[12] dan anti-Semitisme[13] yang telah terjadi di Perancis, yang dilakukan oleh oknum atas nama Islam. Kami berkomitmen untuk melawan terhadap orang-orang yang membenci pada tiga isu tersebut.
  2. Kami memiliki komitmen kuat terhadap kesamaan hak untuk kedua jenis kelamin. Kami melawan penindasan perempuan yang mengalami Status Hukum Pribadi, seperti yang terjadi di Aljazair (perkembangan terbaru juga terjadi di Maroko menyoroti seberapa jauh Aljazair tertinggal), bahkan di Perancis melalui perjanjian bilateral.
  3. Kami percaya bahwa demokrasi tidak bisa ada tanpa hak yang sama . . . . Hal ini menjadi landasan kita dalam menentang hukum wajib mengenakan jilbab dalam Islam, bahkan jika di antara kita ada perbedaan pendapat tentang hukum yang melarang dari sekolah-sekolah di Perancis. Kami percaya bahwa pengakuan keberadaan homoseksualitas dan kebebasan bagi kaum homoseksual untuk menjalani kehidupan mereka sendiri sesuai dengan keinginan mereka merupakan kemajuan yang tak terbantahkan. Selama individu heteroseksual ataupun homoseksual tidak melanggar hukum dan melindungi anak di bawah umur, pilihan seksual setiap orang adalah hak privasi, dan tidak ada hubungannya intervensi negara dengan cara apapun.
  4. Akhirnya, kami mengutuk tegas pernyataan anti-Semit yang dibuat baru-baru ini dalam pidato atas nama Islam . . . . Kita melihat penggunaan konflik Israel - Palestina oleh gerakan fundamentalis sebagai sarana mempromosikan bentuk yang paling mengganggu dari anti Semitisme.
  5. Meskipun kita tidak sependapat dengan kebijakan pemerintah Israel, namun kami menolak untuk memberikan gambar-gambar primitif 'Yahudi'. Konflik historis antara kedua bangsa tidak boleh dieksploitasi. Kami mengakui hak Israel untuk ada, hak yang diakui oleh kongres PLO di Aljir pada tahun 1988 dan pertemuan puncak Liga Arab di Beirut tahun 2002. Pada saat yang sama kami berkomitmen untuk rakyat Palestina dan mendukung hak mereka untuk mendapatkan sebuah negara dan dibebaskan dari pendudukan.[14]

4. The Theological puritans

Kelompok ini muncul dilatarbelakangi dengan keprihatinan terhadap masalah teologis seperti 'keyakinan yang benar'. Mereka berusaha untuk memurnikan ajaran Islam yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri, seperti mengkultuskan seorang ulama' yang berlebihan, praktek sihir, praktek Sufi yang mereka anggap sebagai bid’ah.[15] Menurut Khaleed Abou El-Fadhl geneologi (silsilah) kelompok puritan merujuk pada doktrin kelompok dan gerakan Wahabi dan Salafi. Kelompok Wahabi dicetuskan oleh Muhammad bin Abdul Wahab di semenanjung Arabia pada abad ke 18. Pendiri kelompok Wahabi berkeyakinan bahwa solusi bagi kemunduran umat Islam adalah dengan pemahaman dan penerapan literal teks sebagai satu-satunya sumber otoritas yang sah.[16]

Muhammad Salih al-Uthaymin[17] merupakan seorang sarjana dari Arab Saudi dan dianggap salah satu tokoh Islam puritan yang terkemuka saat ini. Salah satu kajian literal terhadap teks-teks al-Qur’an dan hadits yang Ia bahas adalah tentang hubungan antara Muslim dan non-Muslim. al-Uthaymin mengeluarkan fatwa tentang orang-orang Muslim yang bermukim di Negara yang mayoritas penduduknya non Muslim:

Dalam pandangan al-Uthaymin, orang-orang Muslim yang bermukim di Negara yang mayoritas penduduknya non muslim dapat mengancam agama serta ajaran yang diyakini.   Bermukim di tanah orang-orang kafir (dar al- kufr) dapat mengancam agama (din), serta moralnya. Ia menambahkan, bahwa orang-orang Muslim yang tinggal di Negara mayoritas non Muslim sering kali melakukan penyimpangan. Bahkan beberapa diantara mereka telah murtad. Namun demikian ada dua syarat yang harus dipenuhi untuk dapat tinggal di Negara orang-orang kafir: (a) penduduk Muslim harus memiliki pengetahuan agama yang cukup mapan, (b) Ia mampu mengekspresikan ajaran agamanya dalam arti bahwa Ia mampu membangun simbol-simbol syari’at Islam tanpa hambatan apapun sehingga tidak ada hambatan dalam membangun shalat, termasuk shalat Jumat dan shalat berjamaah, tidak ada kendala dalam pengelolaan zakat, puasa, haji dan simbol Islam lainnya. Kalau tidak bisa memenuhi syarat tersebut, lebih baik Ia berimigrasi ke Negara yang mayoritas penduduknya Muslim.[18]

5. The Islamist Extremists,

Pada awal abad 21 ada sejumlah kelompok mililitan dari kalangan umat Islam yang dikait-kaitkan dengan perjuangan nasional seperti kejadian perang pertama di Afganistan akibat pendudukan yang dilakukan negara Uni soviet. Kemudian perjuangan mereka tidak berhenti sampai di situ. Kelompok militan ini melakukan propaganda anti Barat, seperti yang dilakukan tokoh militan ekstrimis Osama Bin Laden. Dalam pandangan Abdullah Saeed, kemunculan militant ekstrimis Muslim dipicu oleh sejumlah hal sebagai berikut:

  1. Kolonialisme Barat atas wilayah-wilayah Islam
  2. Pembatasan dan pengawasan dan sumber-sumber ekonomi Negara Muslim, pembiaran Negara Muslim agar tetap lemah, pencegahan kekuatan Muslim untuk bangkit melawan hegemoni Barat, serta pendudukan wilayah Muslim oleh Barat.
  3. Politik standar ganda yang diterapkan oleh Barat, pembatasan dakwah Islam dan dukungan terhadap kalangan misionaris.
  4. Perasaan ketidakberdayaan dalam menghadapi Barat yang dominan.[19]

Akhirnya, mereka percaya dalam menggunakan teror untuk mencapai tujuan mereka. Berikut ini salah satu diantara fatwa yang dikeluarkan oleh Osama Bin Laden dan mendesak seluruh umat Islam agar melaksanakan:

  1. Membunuh orang Amerika dan sekutu mereka, baik orang sipil/militer adalah kewajiban bagi setiap individu Muslim yang dapat melakukannya.
  2. Membebaskan Masjid al- Aqsa (salah satu tempat tersuci Islam di Yerusalem) dan masjid al-haram di Mekah dari cengkeraman mereka, dan agar tentara mereka untuk keluar dari semua negeri Islam.[20]

6. The Progressive ijtihadists.

Kelompok ini merupakan Para pemikir modern yang berusahan menafsir ulang ajaran agama agar bisa menjawab kebutuhan masyarakat modern. Pada kategori yang terakhir inilah posisi muslim progresif. Karakteristik menonjol yang dimiliki oleh muslim progresif, adalah:

  1. Mereka mengadopsi pandangan bahwa beberapa bidang hukum Islam tradisional membutuhkan perubahan dan reformasi substansial dalam rangka menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat muslim saat ini.
  2. Mereka cenderung mendukung akan perlunya fresh ijtihad (pemikiran yang segar) dan metodologi baru dalam ijtihad untuk menjawab permasalahan-permasalahan kontemporer.
  3. Beberapa di antara mereka juga mengkombinasikan atau mengintegrasikan secara kreatif warisan kesarjanaan Islam tradisional dengan pemikiran dan pendidikan Barat modern.
  4. Mereka selalu optimis dan teguh pendirian bahwa dinamika dan perubahan sosial, baik pada ranah intelektual, moral, hukum, ekonomi atau teknologi, dapat direfleksikan dalam hukum Islam.
  5. Mereka tidak merasa terikat pada dogmatisme atau mazhab hukum dan teologi tertentu dalam pendekatan kajiannya.
  6. Mereka lebih menekankan pemikirannya pada berbagai isu keadilan sosial, keadilan gender, HAM dan relasi yang harmonis antara Muslim dan non-Muslim.[21]

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Abdullah Saeed, Islamic Thought An Introduction, (London and New York: Routledge, 2006)
  • Abou El-Fadhl, Cita Dan Fakta Toleransi Islam, terj. Heru Prasetia. (Bandung: Mizan, 2003)
  • Abu ‘Ala al-Maududi, Hukum dan Konstitutsi Sistem Politik Islam, terj. Asep Hikmat, (Bandung: Mizan, 1995)
  • Alifuddin at-Turabi, Abu ‘Ala al-Mududi; Ashrihi, Hayatihi, Dakwatihi, Mu’allifatihi, (Kuwait: Daar el-Qalam, 1987)
  • http://www.kolombiografi.com/2013/10/biografi-dr-yusuf-al-qaradawi.html
  • IDSS, "Progressive Islam”
  • Jasser Auda, Maqasid al-Syariah as Philosophy of Islamic Law: A System Approach, (London, IIIT, 2008)
  • N. J. Coulson, A History of Islamic Law (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1964)
  • Nurcholish madjid, Islam Doktrin & Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 2008)
  • Omid safi, Progressive Muslims on justice, gender and pluralism, first published by oneworld publications, 2003
  • Tariq Ramadan, Western Muslims and the Future of Islam, (New York: Oxford University Press, 2004)

 

Endnote:

[1] Terdapat enam tren kelompok pemikir muslim yang sedang mengemuka saat ini, yaitu: The Legalist-traditionalist, The Theological puritans, The Political Islamists, The Islamist Extremists, The Secular Muslims, The Progressive ijtihadists. Pada kategori yang terakhir inilah posisi muslim progresif. Lihat Abdullah Saeed, Islamic Thought An Introduction, (London and New York: Routledge, 2006), hlm. 142-150.

[2] Kategorisasi tersebut di atas hampir sama dengan kategorisasi yang dibuat oleh Tariq Ramadan yang juga membagi tren atau kecenderungan pemikiran Islam dewasa ini menjadi enam kelompok yang dianggap dapat merepresentasikan perspektif Muslim yang terkenal pada abad 20 dan 21, yaitu: Scholastic Traditionalism,, Salafi Literalism, Salafi Reformism, Political Literalist Salafism, Liberal or Rational Reformism, Sufism. Menurut Tariq Ramadan, posisi atau tren pemikiran muslim progresif ada pada kelompok Liberal or Rational Reformism, lihat Tariq Ramadan, Western Muslims and the Future of Islam, (New York: Oxford University Press, 2004), h1m. 24-28.

[3] Abdullah Saeed, Islamic Thought An Introduction, (London and New York: Routledge, 2006), hlm. 142.

[4] Ibid, hlm. 142.

[5] Nurcholish madjid, Islam Doktrin & Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 2008), hlm. 232

[6] Yusuf al-Qaradawi lahir di Shafth Turaab, Kairo, Mesir, 9 September 1926 adalah seorang cendekiawan Muslim yang berasal dari Mesir. Ia dikenal sebagai seorang Mujtahid pada era modern ini. Beliau merupakan seorang pemikir, sarjana dan intelek komtemporori yang tidak asing lagi di dunia Islam. Selain sebagai seorang Mujtahid ia juga dipercaya sebagai seorang ketua majelis fatwa. Banyak dari fatwa yang telah dikeluarkan digunakan sebagai bahan rujukan atas permasalahan yang terjadi. Namun banyak pula yang mengkritik fatwa-fatwanya. Lihat http://www.kolombiografi.com/2013/10/biografi-dr-yusuf-al-qaradawi.html

[7] Abdullah Saeed, Islamic Thought An Introduction, (London and New York: Routledge, 2006), hlm. 143

[8] Abdullah Saeed, Islamic Thought An Introduction, (London and New York: Routledge, 2006), hlm. 144

[9] Abu ‘Ala al-Maududi lahir di Aurangabad, India Selatan pada tanggal 25 September 1903. Baca Alifuddin at-Turabi, Abu ‘Ala al-Mududi; Ashrihi, Hayatihi, Dakwatihi, Mu’allifatihi, (Kuwait: Daar el-Qalam, 1987), hlm. 37

[10] Abu ‘Ala al-Maududi, Hukum dan Konstitutsi Sistem Politik Islam, terj. Asep Hikmat, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 159

[11] Ibid, hlm. 166

[12] Respons negatif terhadap kaum gay atau lesbian, ditunjukkan dengan rasa takut, kebencian, atau kemarahan.

[13] Antisemitisme adalah suatu sikap permusuhan atau prasangka terhadap kaum Yahudi dalam bentuk-bentuk penganiayaan/penyiksaan terhadap agama, etnik, maupun kelompok ras, mulai dari kebencian terhadap individu hingga lembaga.

[14] Abdullah Saeed, Islamic Thought An Introduction, (London and New York: Routledge, 2006), hlm. 146-147

[15] Ibid, hlm. 147

[16] Abou El-Fadhl, Cita Dan Fakta Toleransi Islam, terj. Heru Prasetia. (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 24.

[17] Muhammad b. Salih al-Uthaymin lahir di kota Unayzah, Arab Saudi, pada tahun 1929 dalam sebuah keluarga religius yang terkenal. Ia belajar dengan banyak ulama terkemuka termasuk Syekh Muhammad Amin al-Shanqiti dan Syaikh Abd al-Aziz ibn Baz. Ibn al-Uthaymin telah mengeluarkan lebih dari lima puluh fatwa (fatwa) dan ia mendasarkan ini pada bukti dari Al-Qur'an dan Sunnah. Saat ini Ia menjabat sebagai staf pengajar di Fakultas Syariah di Imam Muhammad bin Sa'ud University dan anggota Komite Ulama Senior Arab Saudi. Dia dianggap menjadi salah satu ulama Salafi terkemuka saat ini. Fatwa-Nya pada masalah yang berada di tanah 'kafir' menunjukkan beberapa aspek pendekatan untuk pertanyaan hukum. 'Shaikh Muhammad Ibn Shalih Al-Utsaimin', Allaahuakbar.net, 14 Juli 2005 <http://www.allaahuakbar.net/scholars/uthaymeen/>.

[18] Abdullah Saeed, Islamic Thought An Introduction, (London and New York: Routledge, 2006), hlm. 148

[19] Ibid, hlm. 149.

[20] Ibid,

[21] Tariq Ramadan, Western Muslims and the Future of Islam, (New York: Oxford University Press, 2004), h1m. 150-151

Tentang Kami

Pondok Pesantren Ngalah.
Jl. Pesantren Ngalah No. 16 Pandean Sengonagung Purwosari Pasuruan
Jawa Timur Kode Pos 67162

Telp./Fax. (0343) 0343 611250; E-Mail:

Connet With Us