Tentang Gawat Darurat

PERJALANAN GRUP SHOLAWAT GAWAT DARURAT

Berawal dari salah satu program di sie. Bakat dan Minat OSIS MA Darut Taqwa Sengonagung untuk membentuk grup musik religi yang akan mewadahi kreatifitas bermusik siswa MA. Darut Taqwa, Akhirnya pada tahun 2001 lewat musyawarah dibentuklah grup musik yang bernafaskan islam. Awalnya muncul ide dengan membentuk grup musik al-Banjari, namun karena di salah satu lembaga non formal yang masih dalam satu Yayasan Darut Taqwa, yaitu Pondok Pesantren Ngalah sudah ada grup al-Banjari maka dibentuklah grup musik islami yang memadukan antara al-Banjari dengan musik modern (elektrik) dengan nama Grup Sholawat Kontemporer yang pada saat itu beranggotakan 9 siswa antara lain Abdul Qodir dan M. Ridwan (Rebana), Ahmad Nailul Ulum (Symbal), Syamsul Arifin (tamborin), Fiton Dalut Firmansyah (Kwarto), Syukron Fanani (Bas Drum), Tri Prasetiyo (Organ), kemudian M. Nasir dan Romadhon (Vokal).

Setelah terbentuk, untuk pertama kalinya grup sholawat kontemporer tampil pada acara maulid Nabi Muhammad SAW tepatnya tanggal 12 Juni 2001 yang diselenggarakan oleh gabungan OSIS MA Darut Taqwa dengan OSIS MTs. Darut Taqwa yang sekaligus tanggal tersebut dijadikan hari lahirnya grup musik sholawat kontemporer.

Setelah berjalan sekitar satu tahunan, keresahan mulai muncul dari para anggota grup sholawat kontemporer. Keresahan ini bukan tanpa alasan karena rata-rata anggota sudah kelas 3 dan membutuhkan generasi baru. Mereka berfikir sangatlah tidak etis kalau mereka sudah lulus masih tetap menjadi anggota, mengingat grup tersebut berada dibawah organisasi sekolah. Akhirnya pada akhir bulan Nopember 2002 lewat musyawarah anggota memutuskan untuk keluar dari OSIS MA Darut Taqwa dan menjadi organisasi ekstra di Pondok Pesantren Ngalah.

Setelah resmi menjadi organisasi ekstra Pondok Pesantren Ngalah, permintaan tampil job manggung pun berdatangan, seperti permintaan tampil pada acara resepsi pernikahan, pengajian umum dan event-event lainnya. Dalam perjalanannya, para personil terus mengembangkan kelompok ini dari sisi musikalitas menjadi lebih baik untuk tetap bisa di terima masyarakat disisi manapun. Di awali dengan nekadnya saudara Fithon Dalut Firmansyah menambah alat musik Gitar Bass yang pada saat itu Pondok Pesantren masih melarang penggunaan gitar, tapi dengan beberapa latar belakang yang bisa diterima, akhirnya diperbolehkan juga. Dan saat itu pula terjadi perombakan personil lantaran pergantian posisi ini. Penambahan alat musik seperti rebana, kibod, dan marawis juga dilakukan untuk memberikan Balancing dalam kreatifitas yang mereka hasilkan.

Kemudian ada ide untuk merubah nama organisasi dengan alasan nama grup musik kontemporer seakan-akan masih ada ikatan dengan OSIS MA Darut Taqwa yang menjadi induk organisasi dulu. Akhirnya anggota sepakat untuk mengganti nama organisasi tersebut dengan nama Gawat Darurat yang merupakan akronim dari Gema Nada Sholawat Darut Taqwa. Nama Gawat Darurat itu sendiri tercetus dari ide Tri Prasetyo yang mendapatkan nama tersebut sepulang dia dari Surabaya dan ketika di tengah perjalanan tanpa di sadari membaca tulisan Unit Instalasi Gawat Darurat (UGD). Akhirnya dari perjalanan tersebut terbesit sebuah kalimat Gawat Darurat yang menurut salah satu anggota tersebut kayaknya pas sebagai ganti nama musik sholawat kontemporer.

Tapi para personil masih belum puas dengan hanya mengganti nama. Ketidakpuasan itu muncul karena pada sisi karya-karya yang dimainkan masih kurang universal. Dan Akhirnya para personil sepakat untuk itba’ pada salah satu grup musik yang dalam segi musikalitas dianggap representatif dengan perkembangan zaman. Akhirnya sepakat untuk meniru gaya grup musik Kiai Kanjeng asuhan Emha Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun. Namun muncul persoalan bagaimana bisa meniru musik Kiai Kanjeng yang nota benenya sudah super senior dalam mengarungi asam manisnya musikalitas sholawat. Informasi pun didapat bahwa Emha Ainun Najib dan Kiai Kanjengnya sering main dan membentuk Jam’iyah Maiyah di daerah Malang. Kemudian para personilpun sering mengikuti Jam’iyah tersebut selain menimba ilmu juga menjalin hubungan dengan anggota Maiyah. Dari situ, akhirnya Gawat Darurat menambah beberapa alat musik seperti gitar, saron, drum, tambur, Jimbe dan Gendang.

Dalam perkembangannya Gawat Darurat sudah bisa dikatakan banyak makan Manis Getir perjuangan dalam bersholawat. Ini dibuktikan dengan karya-karya sholawat yang mereka hasilkan, namun banyak karya mereka yang tidak terinventarisir karena pergantian personil yang hampir dipastikan terjadi di setiap tahun. Sampai sekarang karya Gawat Darurat yang masih sering dilantunkan, antara lain: Ya Ilahana, Hubbu Ahmadin (Kasihku Muhammad), Orep, Kapak Ibrahim, Ojok Gawe Geger, Syi’ir Kagem Kyai Sholeh (Ta’dim KH. M. Sholeh Bahruddin), Insyaf, Tombo Ati. Tidak hanya itu Gawat Darurat juga mengikuti beberapa event sholawat dan terbukti pada tahun 2009 Gawat Darurat menjuarai Festival sholawat se-Pasuruan pada acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh Radio Warna Pasuruan.

Profil Grup Sholawat Gawat Darurat

  • Nama Organisasi : Gawat Darurat Sholawat
  • Alamat: Jl. Pesantren Ngalah No. 16 Pandean Sengonagung Purwosari Pasuruan 67162
  • Nomor Telepon: (0343) 611250
  • Di Bawah Naungan: Pondok Pesantren Ngalah
  • Ketua: Choirul Anam

Tentang Kami

Pondok Pesantren Ngalah.
Jl. Pesantren Ngalah No. 16 Pandean Sengonagung Purwosari Pasuruan
Jawa Timur Kode Pos 67162

Telp./Fax. (0343) 0343 611250; E-Mail:

Connet With Us